Ketika mengalami hal yang tidak menyenangkan bagi kita,baik berupa musibah yang melanda keluarga, keuangan yang “mencekik”, kondisi kesehatan yang kurang baik dan segala hal yang kita anggap tidak enak-enak, kita cenderung mengrutu dan tidak sedikit orang “berfikir negatif” bahwa Tuhan tidak sayang pada kita.
Al-quran menceritakan, ketika Nabi Musa di suruh oleh Allah untuk pergi ke hilir, beliau ke hilir di temani oleh muridnya yang bernama Nun. Keduanya mempersiapkan bekal untuk perjalan yang tidak bisa di prediksikan kapan sampainya. Sebungkus roti dan ikan yang sudah matang ditaruh di sebuah toples. Ketika keduanya sampai disebuah tempat dan memutuskan untuk istirahat sejenak, Nabi Musa hendak menyantap bekalnya dan meminta ke pada muridnya untuk memberikan ikan tersebut.
“Maafkan saya tuan, saya lupa memberi tahu tuan. Saat kita melewati sebuah hilir tadi, ikan yang ada di dalam toples tadi tiba-tiba hidup kembali dan kemudian meloncat masuk ke dalam laut.” Terang muridnya kepada Nabi Musa.
Nabi segera meminta muridnya untuk menunjukkan tempat tersebut, karena tempat itulah yang selama ini beliau cari, yaitu majma’ al-bahrain. Apa itu majma’ al-bahrain? majma’ adalah pertemuan, perjumpaan atau benturan, sedangkan al-bahr adalah laut kalau al-bahroin dua laut. Jadi majma’ al-bahrain adalah pertemuan atau perjumpaan dua laut. Kejadian tersebut telah dijelaskan dalam al-quran surat al-kahfi ayat 60-64, dan telah dibuktikan oelh ilmuan-ilmuan masa kini.
Jadi apa Ilmu atau rahasia yang dapat dipetik dari ciptaan Allah ini (majma’ al-bahrain)? ilmunya ialah jika kita mengalami “beturan-benturan” dalam kehidupan, maka bersyukurlah. Sebab dari “benturan-benturan” tersebut disitulah letak sesuatu yang mati menjadi hidup, sesuatu yang buntu menjadi terbuka, sesatu yang tidak kreatif menjadi kreatif, itulah yang disebut letak ‘gravisitas’ yaitu keadaan yang berbentur-bentur, sesuatu keadaan yang seolah-olah kesulitan bagi kita justru disitulah letak Allah menyembunyikan rizkinya dan menampakkan kasih sayang-Nya dengan gaya bahsa-Nya sendiri.
Jadi jika ketika kita mengalami yang susah-susah, sulit-sulit, jagan dicurigai dengan sesuatu yang menyengsarakan, Tuhan memberi rezki dengan cara bermacam-macam. Jagan-jangan ketika Tuhan memberi harta banyak justru itu menjadi “malapetaka” bagi kehidupan kita. Begitu sebaliknya, ketika Tuhan memberi kita sesuatu yang negatif dalam sudut ekonomi modern, jagan-jagan disitu Tuhan memberi rezki (kreatifitas, kearifan, ketajaman berfikir,dan kejernihan hati). Kalau kita cermati lebih dalam, ketika kita dalam keadaan terhimpit (susah) justru segala kratifitas kita muncul,yang dulunya kita tidak bisa menyelesaikan tugas yang dibebankan pada kita,karena deadline akhirnya bisa selesai. Atau ketika seorang yang awal mulanya kakinya sakit untuk berjalan ketika anjing mengejarnya, tanpa piker panjang langsung “tancap gas”, itulah yang di sebut dengan the power of kepepet. Jadi Majma’ al-bahrain itu benar-benar terjadi dalam sejarah, dalam hidup kita masing-masing, dalam keluarga kita juga dalam bangsa kita Indonesia.
Sekarang coba kita temukan Majma’ al-bahrain dalam konteks Indonesia apa saja, benturannya apa saja, justru disitulah letak di mana momentum kita akan hidup. Seperti halnya yang terjadi pada ikan nabi Musa yang mana ikan itu sudah mati, sudah di goreng kemudian hidup kembali. Dan Allah menjanjikan. Ingat janji Allah bukan suatu keajaiban melainkan suatu kenyataan yang diterjemahkan dalam hukum-hukum alam dan proses-proses sejarah yang rasional.
Jadi ingat pada tahun 2004 terjadi musibah Gempa bumi tektonik berkekuatan 8,5 SR berpusat di Samudra India (2,9 LU dan 95,6 BT di kedalaman 20 km (di laut berjarak sekitar 149 km selatan kota Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam). Gempa itu disertai gelombang pasang (Tsunami) yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), yang memakan korban 105.262 jiwa. Kemudian 26 Desember 2007 100 Orang Lebih tewas di P. Jawa: Di penghujung tahun, pada saat warga Aceh sedang memperingati tiga tahun bencana besar tsunami sederetan bencana menghantam Jawa Tengah, Solo, Yogyakarta dan Jawa Timur. Diperkirakan lebih dari seratusan orang tewas akibat bencana banjir dan tanah longsor yang sambung menyambung. Di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sedikitnya 64 orang tewas akibat tanah longsor. Di Kabupaten Wonogiri, sebanyak 17 orang juga terkubur hidup-hidup oleh tanah longsor saat terlelap dalam tidurnya. Di Solo, banjir merendam ratusan rumah dengan ketinggian mencapai 1,5 meter. Musibah yang terjadi pada 14 April 2010, di Jakarta terjadi bentrok berdarah antara Satpol PP dengan warga di areal makam Mbah Priok. Terus tsunami mentawai dan gempa di wasior, gunung merapi di Jawa Tenggah, dan gunung bromo di Jawa Timur.
Disinilah bangsa ini banyak mengalami Majma’ al-bahrain, sehingga disamping pertengkaran-penteangkaran, saling menyalahkan satu dengan yang lainnya, kita juga harus ada tim kreatif di luar pertengkaran-pertengkaran tersebut. Ada orang atau lembaga khusus sebagai “lite bank” untuk mempelajari letak grativitas “kehidupan”, sehingga pada tahun ini atau tahun-tahun berikutnya kita dapat mengatasi “benturan-benturan” setidaknya benturan pada diri kita pribadi atau pada keluarga kita.**ram



0 komentar:
Posting Komentar