Semua manusia pasti merindukan kebahagiaan. Apapun yang dilakukan manusia pasti berujung pada mencapai kebahagiaan. Bahkan dalam doa-doanya setiap saat ingin mencapai kebahgiaan dunia dan akhirat. Beragam orang dalam menterjemahkan kebahagiaan, ada yang menggambarkan kebahagiaan dalam bentuk materi, memiliki rumah yang besar dan luas, kendaraan yang mewah, pakaian yang mahal, harta yang berlimpah. Jika barang-abarang tersebut tidak didapatkannya maka dia akan sedih dan kecewa.
Ada yang menggambarkannya dengan segala sesuatu yang dapatmemuaskan batinnya, seperti mendapatkan pujian, penghargaan dan sedih, kecewa dan sakit hati ketika tidak mendapatkan pujian dan penghargaan atas apa yang dilakukannya. Dan banyak lagi orang menterjemahkan arti kebahagiaan tersebut.
Bagi orang yang berpuasa, kebahagiaan memililki makna tersendiri seperti sabda rasulullah saw. bersabda: “ dan bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yang pertama kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kedua kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbanya.” (Muattafaq’alaih).
Ketika berbuka puasa
Nikmatnya makan adalah ketika perut dalam keadaan lapar dan nikmatnya minum ketika rasa haus dahaga membuat kering tenggorokan. Alangkah bahagiannya mereka yang makan dan minum setelah dalam keadaan lapar dan haus, karena makan dan minum pada “waktu yang tepat” merupakaan kenikmatan yang ‘sebenarnya’. Tidak akan bisa kita rasakan nikmatnya sepiring nasi pecel jika perut kita terisi penuh makan di dalamnya, tidak akan bisa kita rasakan nikmatnya segelas air putih jika kita sudah minum semangkok es teler.Ini lah hakikat yang tertanam dalam ibadah puasa, sebuah pelajaran hidup yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sesungguhnya Allah SWT Maha Penyayang terhadap hambaNya tidak satupu syariat yang diturunkankecuali untuk kemaslahatan manusia. Di dalam ibadah puasa Allah melarang manusai untuk makan, minum dan menahan nafsu. Dan atas kasih sayangn dari Allah SWT. bagi yang berpuasa untuk menyegerakan berbuk dan mengakhirkan sahur.
Berjumpa dengan Allah
Kebahagiaan kedua yang berpuasa adalah jumpa dengan Allah SWT, “Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu beseri-seri, memandang Tuhannya.” (76:22-23). Ibnu Rajab berkata: “Bagi orang yang berpuasa maka mereka akan mendapat balasan yang besar atas puasanya dengan berjumpa Allah SWT.” “….kebaikan apa saja yang kami perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya..” (74:20).
Ramadhan telah tiba, dua kebahagiaan telah ada di sepan mata, beruntunglah bagi siapa saja yang berpuasa karena mengharapkan ridha Allah dan rugilah bagi siapasajaa yang kehilangan kesempatan emasnya. Semoga Ramdhan kali ini menjadi Ramdhan yang paling sukses dari sebelumnya. Amin ya rabbal ‘alamin.. ..
Tamu agung akan segera datang. kedatangannya selalu disambut penuh suka cita oleh penduduk langit dan Bumi yang beriman. Demikian pula kepergiaanya akan diiringi perasaan penuh duka cita. Bulan Ramadhan, bulan yang ditunggu oleh para perindu kedamaian jiwa, para pencinta Sang Pemilik Cinta, para pendosa yang mengharap ampunan dan pembebasan dari ancaman siksa neraka.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang agung dan mulia. Hari-harinya selalu istimewa. Istimewa dengan limpahan karunia rahmat dan pengampunan. Bulan pembebasan dari tanggungan dosa bagi hamba-hamba yang bertakwa. Keberkahan dan keutamaan terdapat di setiap detik waktu di dalamnya.
Alangkah wajar jika kita menyambut kedatangannya dengan segenap kegembiraan dan kesiapan, agar kita dapat meraih tujuan dengan maksimal. Derajat takwa adalah derajat yang tinggi dan mulia di hadapan Allah. Untuk meraihnya, tidaklah mudah dan dengan usaha “sekedarnya”. Puncak ketinggian prestasi amal ini haruslah direncanakan dan dipersiapkan. “Gagal merencanakan = merencanakan gagal”.
Bulan Ramadhan adalah musim perlombaan bertaqarrub kepada Allah. Berlomba menghadirkan amal-amal terbaik kualitasnya untuk dipersembahkan kepada Allah, Pemilik jagat raya ini.. Berlomba mempersembahkan puasa yang terbaik, sholat tarawih yang terbaik, bacaan Al-Al-Quran, dzikir, sedekah dan lain-lain. Berlomba untuk meraih berbagai keutamaan dan keistimewaan pahala di dalamnya. Sudahkah kita mempersiapkan diri memasuki arena perlombaan ini?
Persiapan kita menghadapi Ramadhan adalah keniscayaan agar prestasi ibadah kita tahun ini lebih baik dari tahun-tahun kemarin. Persiapan ini juga menjadi bukti dan manifestasi dari ketulusan cinta kita terhadap kedatangannya, kepatuhan yang tinggi terhadap syari’at Allah dan kesungguhan meraih ridho-Nya. Orang–orang yang saleh terdahulu (salaf) biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rajab dan Sya'ban. Hal ini tercermin dari doa yang dipanjatkannya di Bulan Rajab dan Sya’ban: "Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan."
Apa saja bentuk persiapan yang perlu dilakukan pra-Ramadhan?
Pertama, al-I’dad al-imany wa ar-ruuhy (Persiapan iman dan ruhiyah)
Iman menjadi landasan amal. Iman menjadi pemicu dan pemacu seseorang dalam melaksanakan suatu amal. Bahkan ia pun menjadi prasyarat diterimanya suatu amalan.
Persiapan dan pembenahan iman menjadi hal mutlak bagi pelaksanaan Ramadhan. Hal ini tercermin dari firman Allah SWT yang menetapkan kewajiban puasa dengan seruan “ Wahai orang-orang yang beriman ….” (Al-Baqarah: 183)
Bagaimana cara melakukan persiapan dan pembenahan iman ini? Para ulama sepakat menyatakan bahwa Iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Jika suatu amal ketaatan dilakukan, maka ia akan mengundang hadirnya bentuk ketaatan yang lain dan berbuah peningkatan iman bagi pelakunya. Demikian pula sebaliknya, suatu kemaksiatan akan memancing pelakunya terjerumus untuk melakukan kemaksiatan berikutnya dan mereduksi kadar keimanan pelakunya.
Oleh karena itu, dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, kita bersegera melakukan muhasabah (introspeksi diri), menghindari berbagai amalan dosa dan maksiat, memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah dan melakukan tazkiyah an-nafs (pembersihan jiwa) dan memperbanyak ibadah dan amal kebajikan, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, dll. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim)
Kita sadari bahwa meraih kesempurnaan pelaksanaan ibadah puasa dan amal sholeh yang terkait dengannya di dalamnya bukanlah perkara yang mudah. Tarikan hawa nafsu dan kesibukan berbagai urusan duniawi bisa mengganggu kekhusyuan dan kesempurnaan ibadah Ramadhan. Oleh karena itu, upaya persiapan ruhiyah dan keimanan ini harus dilakukan. Bahkan diupayakan meningkat sejak bulan Rajab dan Sya’ban dan semakin meningkat hingga memasuki Bulan Ramadhan. Inilah bentuk “pemanasan” (warming up) dan pembiasaan sehingga kita memasuki Ramadhan dalam keadaan kadar keimanan yang tinggi dan terbiasa dalam melakukan kebajikan.
Kedua, al-I’dad al-Ilmi wa ats-tsaqofi (persiapan aspek keilmuan dan wawasan)
Banyak orang yang berpuasa, namun gagal meraih keutamaan yang disediakan. Yang terasa hanya lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan karena puasanya tidak dilandasi oleh ilmu yang cukup. Puasa disamakan dengan rutinitas tahunan dari ritual tradisi tanpa pemahaman dan pendalaman makna. Jelas, seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan apa-apa kecuali kesia-siaan belaka.
Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Imam Bukhari menegaskan : Ilmu (menjadi landasan) sebelum berkata dan beramal. Orang yang berpuasa dengan dasar ilmu memiliki keseriusan melaksanakannya. Ia paham keutamaannya dan amal-amal terbaik yang perlu dilakukan. Ia mengetahui pembatal-pembatal, dan pengurang pahalanya.
Persiapan Ramadhan dari aspek fikriyah (persiapan intelektual dan keilmuan) dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Caranya antara lain dengan membaca buku dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan, menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan perlbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, juga penting untuk dipersiapkan. Bekal ilmu akan mengarahkan kita untuk beribadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW selama Ramadhan. Hal ini menjadi pelengkap syarat terkabulnya suatu amalan setelah lurusnya keikhlasan karena Allah SWT.
Ketiga, al-I'dad al-Jasady (persiapan fisik)
Rasululah SAW bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” (Al-Hadis)
Puasa termasuk ibadah fisik dan diwajibkan bagi orang yang mampu secara fisik. Demikian pula, kualitas dan kuantitas qiyamul lail dan membaca Al-Qur’an membutuhkan kondisi fisik dan kesehatan yang prima. Sehingga menjaga kondisi fisik dan kesehatan harus dilakukan sejak awal. Jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal.
Sejak bulan Rajab, Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan memperbanyak puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur'an baik dengan membaca maupun mengkaji kandungannya (tadabbur) serta biasa bangun untuk sholat malam.
Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan.
Keempat, al-I'dad al-Maliy (persiapan harta)
Idealnya seorang muslim telah menabung selama sebelas bulan yang lain sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan.
Harta kekayaan yang terkumpul bukan hanya untuk kepentingan diri dan keluarga. Namun, harta juga hendaklah memiliki fungsi sosial. Karena puasa melatih sikap empati kepada sesama. Berhasilnya Internalisasi makna puasa ini tercermin dengan meningkatnya kesadaran untuk berzakat, infak dan sedekah.
Salah satu ibadah yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW di Bulan Ramadhan adalah bersedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa. Di antara bentuk sedekah yang istimewa di bulan ini adalah memberi makan orang yang berpuasa (ifthor). Pahala sedekahnya adalah sebanyak jumlah orang yang diberinya makan. Subhanallah..
Persiapkanlah sejumlah dana untuk bekal melipatgandakan sedekah di Bulan Ramadhan. Tentunya, harta yang harus disiapkan adalah harta yang diperoleh dengan cara yang halal dan thayyib. Sebab, “Allah itu baik, dan tidak menerima (dari hamba-Nya) kecuali yang baik-baik” (al-Hadis).
Kelima al-I’dad al-baramij ar-ramadhaniyah (Persiapan program Ramadhan)
Ramadhan adalah syahrul ibadah, syahrul Quran, syahrut tarbiyah, syahrud dakwah, dst. Persiapkanlah kegiatan-kegiatan yang mencerminkan nilai Bulan Ramadhan tersebut. Aktivitas dan program itu bisa ditujukan untuk pribadi, keluarga, masyarakat, maupun organisasi (jama’ah).
Khususnya para da’i/da’iyah, hendaknya menyiapkan barnamij da’awiy (program-program dakwah) berupa aktivitas taklim, kajian kitab, diskusi, ceramah, dan lain-lain. Sebab, meningkatnya kesadaran religus (maknawiyah dan ruhiyah) umat Islam menjadi peluang untuk meningkatkan iltizam (komitmen) umat kepada ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Akhirnya, selamat mempersiapkan diri menyambut Bulan nan mulia ini. Semoga kesempatan ini dapat kita gunakan sebaik-baiknya untuk memperbaiki kekurangan Ramadhan yang telah lalu dan menjadi momentum perbaikan kondisi diri pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa. Wallahu'alam bishowab
* Pengasuh Pondok Pesantren di Bima Nusa Tenggara Barat
Dalam setiap langkah ku selalu mengalami ‘pengadaan’
Aku tidak tahu mana yang nyata dan yang hayal
Aku hanya bisa mengharap semoga itu kan jadi kenyataan
Tapi toh nyatanya itu hanyalah lamunan ku belaka
Sehingga menjerumuskan aku dalam lembah kehinaan dan kebodohan.
Tuhan, meski aku selalu mengkhianati-Mu
Namun Kau tetap setia menemaniku dan selalu membimbingku
Walau aku telah ‘selingkuh’ dari cinta-Mu
Aku lebih asyik dengan khayalan-khayalan cinta yang semu
Namun Kau tetap menaburkan benih-benih cinta-Mu padaku.
Tuhan dosa ku mengunung tinggi
Tapi Rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku pada-Mu
hanyalah setitik nikmat-Mu di bumi
Tuhan meski taubatku sering ku ukir
Namun pengampunan-Mu tak pernah berhenti
Bila selangkah ku datang padamu
seribu langkah Kau datang padaku.
Tuhan,kau begitu serius mengurusi hambamu
Setiap tetes embun pagi yang turun membasahi bumi
Engkau atur sedemikian rupa
Bahkan seekor kecoakpun Engaku serius mengurusnya
Tapi aku iseng, aku tidak serius
Bahkan menghadapMu aku setenggah hati.
Tuhan apakah aku pantas menirima itu semua
Apakah aku layak menadapatkan cinta-Mu
Pastaskah aku menampangkan muka di hadapan-Mu
Aku sadar akan kekuranganku dan kebodohanku
tetapi aku tidak bisa untuk meninggalkan itu semua
Tuhan maafkan aku
Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu berhimpun dalam naungan cinta-Mu,bertemu dalam ketaatan,bersatu dalam perjuangan menegakkan syari’at dalam kehidupan. Maka kuatkan ikatanya, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tiada penah redup…,
(doa Rabitah)
Ketika menelaah lebih dalam tetang penciptaan manusia sebagai makhluk paling sempurna diantara ciptaa-Nya dan Allah pun memuliakannya, seperti dalam firman-Nya :
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan,Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al-Isra’:70)
Akan tetapi manusia sendiri adalah makhluk yang paling lemah dari pada yang lain. Misalnya dengan binatang, dia tidak lebih kuat dari gajah atau badak. Manusia pun mengalami sakit.
Di dalam Islam mengenal tiga macam penyakit; penyakit hati, penyakit jiwa, dan penyakit fisik. Membedakan penyakit fisik dengan penyakit jiwa lebih mudah ketimbang membedakan penyakit jiwa dengan penyakit hati. Walaupun demikian, ketiganya memiliki persamaan. Apa pun yang dikenai oleh ketiga penyakit itu, ia tidak akan mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Tubuh kita disebut berpenyakit apabila ada bagian tubuh kita yang tidak menjalankan fungsinya dengan benar, begitu juga dengan hati dan jiwa kita.
Jika jiwa terjangkit penyakit maka akibatnya orang tersebut mengalami ganguan jiwa, dalam istilah modernnya, stress atau depresi. Penyakit ini yang sekarang banyak dirasakan masyarakat modern. Adapun penyakit hati sulit untuk mendetiksinya, bahkan orang yang terkena penyakit tersebut tidak merasa bahwa dia terkena penyakit hati, seperti iri hati, dengki, hasud, sombong, su’udzon, khianat, dan lain sebagainya. Dan salah satu penyakit yang menggerogoti hati, khususnya dari kalangan remaja dan dewasa ialah penyakit hati yang di akibatkan oleh virus cinta (al-isyq), bahkan seorang aktivis dakwah kampus pun bisa terkena virus tersebut, adapun mereka mengistilahkannya, “virus merah jambu”.
‘Virus’ hati yang bernama cinta ternyata telah banyak memakan korban. Mungkin anda pernah mendengar seorang remaja yang nekat bunuh diri disebabkan putus cinta, atau tertolak cintanya. Atau anda pernah mendengar kisah Qeis yang tergila-gila kepada Laila. Kisah cinta yang bermula sejak mereka bersama mengembala domba ketika kecil hingga dewasa. Akhirnya sungguh tragis, Qeis benar-benar menjadi gila ketika laila dipersunting oleh pria lain.
Ibn Qoyyim dalam karya besarnya “Zadul Ma’ad”. Beliau berkata: “Gejolak cinta adalah jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus disebabkan perbedaannya dengan jenis penyakit lain dari segi bentuk, sebab maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati, sulit bagi para dokter mencarikan obat penawarnya dan penderitanya sulit disembuhkan.
Allah mengkisahkan virus ini di dalam Alquran tentang dua tipe manusia, pertama wanita dan kedua kaum homoseks yang cinta kepada mardan (anak laki-laki yang rupawan). Allah mengkisahkan bagaimana virus ini telah menyerang istri Al-Aziz—gubernur Mesir—yang mencintai Nabi Yusuf, dan menimpa Kaum Luth. Allah mengkisahkan kedatangan para malaikat ke negeri Luth:
“Luth berkata: "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina".Mereka berkata: "Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?" Luth berkata: "mereka itulah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yanghalal)". (Allah berfirman): "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)".(Surat al-Hijr:68-72)
Kriteria Manusia yang Berpotensi Terjangkit virus cinta(al-isyq)
Virus cinta (al-isyq) akan menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahbbah (cinta) kepada Allah, selalu berpaling dari-Nya dan dipenuhi kecintaan kepada selain-Nya. Hati yang penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu dengaan-Nya pasti akan kebal terhadap serangan virus ini. Sebagaimana yang terjadi dengan Yusuf alaihis salam:
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.…”.(Yusuf:24)
Nyatalah bahwa Ikhlas merupakan immunisasi manjur yang dapat menolak virus ini dengan berbagai dampak negatifnya berupa perbuatan jelek dan keji.Artinya memalingkan seseorang dari kemaksiatan harus dengan menjauhkan berbagai sarana yang menjurus ke arah itu.Berkata ulama Salaf: “virus cinta adalah getaran hati yang kosong dari segala sesuatu selain apa yang dicinta dan dipujanya. Allah berfirman mengenai Ibu Nabi Musa:“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya”.(al-Qasas:11)yakni kosong dari segala sesuatu kecuali Musa karena sangat cintanya kepada Musa dan bergantungnya hatinya kepada Musa.
Bagaimana virus ini bisa berjangkit ?
virus al-isyq terjadi dengan dua sebab, pertama: Karena mengganggap indah apa-apa yang dicintainya. Kedua: perasaan ingin memiliki apa yang dicintainya. Jika salah satu dari dua faktor ini tiada niscaya virus tidak akan berjangkit. Walaupun virus kronis ini telah membingungkan banyak orang dan sebagian pakar berupaya memberikan terapinya, namun solusi yang diberikan belum mengena.
Cinta dan Jenis-jenisya
Cinta memiliki berbagai macam jenis dan tingkatan, yang tertinggi dan paling mulia adalah mahabbatu fillah wa lillah (cinta karena Allah dan di dalam Agama Allah ) yaitu cinta yang mengharuskan mencintai apa-apa yang dicintai Allah, yang dilakukan berlandaskan cinta kepada Allah dan RasulNya.
Cinta berikutnya adalah cinta yang terjalin karena adanya kesamaan dalam cara hidup, agama, mazhab, idiologi, hubungan kekeluargaaan, profesi dan kesamaan dalam hal-hal lainnya.
Diantara jenis cinta lainnya yakni cinta yang motifnya karena inggin mendapatkan sesuatu dari yang dicintainya, baik dalam bentuk kedudukan, harta, pengajaran dan bimbingan, ataupun kebutuhan biologis. Cinta yang didasari hal-hal seperti tadi—yaitu al-mahabbah al-‘ardiyah-- akan hilang bersama hilangnya apa-apa yang inggin didapatnya dari orang yang dicintai. Yakinlah bahwa orang yang mencintaimu karena sesuatu akan meninggalkanmu ketika dia telah mendapat apa yang diinginkannya darimu.
Adapun cinta lainnya adalah cinta yang berlandaskan adanya kesamaan dan kesesuaian antara yang menyinta dan yang dicinta. Mahabbah al-isyq termasuk Cinta jenis ini tidak akan sirna kecuali jika ada sesuatu yang menghilangkannya. Cinta jenis ini, yaitu berpadunya ruh dan jiwa, oleh karena itu tidak terdapat pengaruh yang begitu besar baik beruparasa was-was, hati yang gundah gula maupun kehancuran kecuali pada cinta jenis ini.
Timbul pertanyaan bahwa cinta ini merupakan bertemunya ikatan batin dan ruh, tetapi mengapa ada cinta yang bertepuk sebelah tangan? Bahkan kebanyakan cinta seperti ini hanya sepihak dari orang yang sedang kasmaran saja, jika cinta ini perpaduan jiwa dan ruh maka tentulah cinta itu akan terjadi antara kedua belah pihak bukan sepihak saja?Jawabnya yaitu bahwa tidak terpenuhinya hasrat disebabkan kurangnya syarat tertentu, atau adanya penghalang sehingga tidak terealisasinya cinta antara keduanya. Hal ini disebabkan tiga faktor, pertama: bahwa cinta ini sebatas cinta karena adanya kepentingan, oleh karena itu tidak mesti keduanya saling mencintai, terkadang yang dicintai malah lari darinya. Kedua: adanya penghalang sehingga dia tidak dapat mencintai orang yang dicintanya, baik karena adanya cela dalam akhlak, bentuk rupa, sikap dan faktor lainnya. Ketiga: adanya penghalang dari pihak orang yang dicintai.
Jika penghalang ini dapat disingkirkan maka akan terjalin benang-benang cinta antara keduanya. Kalau bukan karena kesombongan, hasad, cinta kekuasaan dan permusuhan dari orang-orang kafir, niscaya para rasul-rasul akan menjadi orang yang paling mereka cintai lebih dari cinta mereka kepada diri, keluarga dan harta.
Terapi virus al-isyq
Sebagai salah satu jenis virus, tentulah al-isyq dapatdisembuhkan dengan terapi-terapi tertentu. Diantara terapi tersebut adalah sebagai berikut:
Jika terdapat peluang bagi orang yang sedang kasmaran tersebut untuk meraih cinta orang yang dikasihinya dengan ketentuan syariat dan suratan takdirnya, maka inilah terapi yang paling utama. Sebagaimana terdapat dalam sahihain dari riwayat Ibn Masud Radhiyallahu ánhu, bahwa Rasulullah Shallallahu álaihi wa Sallam bersabda:
“Hai sekalian pemuda, barang siapa yang mampu untuk menikah maka hendaklah dia menikah , barang siap yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan zina”).
Hadis ini memberikan dua solusi, solusi utama, dan solusi pengganti.Solusi petama adalah menikah, maka jika solusi ini dapat dilakukan maka tidak boleh mencari solusi lain. Ibnu Majah meriwayatkan dariIbnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur pernikahan”.
Inilah tujuan dan anjuran Allah untuk menikahi wanita, baik yangmerdeka ataupun budak dalam firman-Nya:
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”.(an-Nisa:28)
Allah menyebutkan dalam ayat ini keringanan yang diberikannya terhadap hambaNya dan kelemahan manusia untuk menahan syahwatnya dengan membolehkan mereka menikahi para wanita yang baik-baik dua, tiga ataupun empat, sebagaimana Allah membolehkan bagi mereka mendatangi budak-budak wanita mereka. Sampai-sampai Allah membuka bagi mereka pintu untuk menikahi budak-budak wanita jika mereka butuh sebagai peredam syahwat, keringanan dan rahmat-Nya terhadap makluk yang lemah ini.
Jika terapi pertama tidak dapat dilakukan karena tertutupnya peluang menuju orang yang dikasihinya karena ketentuan syar’i dan takdir, virus ini bisa semangkin ganas. Adapun terapinya harus dengan meyakinkan dirinya bahwa apa-apa yang diimpikannya mustahil terjadi, lebih baik baginya untuk segera melupakannya. Jiwa yang berputus asa untuk mendapatkan sesuatu, niscaya akan tenang dan tidak lagi mengingatnya. Jika ternyata belum terlupakan, akan berpengaruh terhadap jiwanya sehingga semangkin menyimpang jauh. Dalam kondisi seperti ini wajib baginya untuk mencari terapi lain yaitu dengan mengajak akalnya berfikir bahwa menggantungkan hatinya kepada sesuatu yang mustahil dapat dijangkau adalah perbuatan gila, ibarat pungguk merindukan bulan. Bukankah orang-orang akan mengganggapnya termasuk ke dalam kumpulan orang-orang yang tidak waras.
Apabila kemungkinan untuk mendapatkan apa yang dicintainya tertutup karena larangan syariat, terapinya adalah dengan mengangap bahwa yang dicintainya itu bukan ditakdirkan menjadi miliknya. Jalan keselamatan adalah dengan menjauhkan dirinya dari yang dicintainya. Dia harus merasa bahwa pintu kearah yang diingininya tertutup, dan mustahil tercapai.
Jika ternyata jiwanya yang selalu menyuruhnya kepada kemungkaran masih tetap menuntut, hendaklah dia mau meninggalkannya karena dua hal,pertama karena takut (kepada Allah) yaitu dengan menumbuhkan perasaan bahwa ada hal yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat,lebih baik dan lebih kekal. Seseorang yang berakal jika menimbang-nimbang antara mencintai sesuatu yang cepat sirna dengan sesuatu yang lebih layak untuk dicintai, lebih bermanfaat, lebih kekal dan lebih nikmat, akan memilih yang lebih tinggi derajatnya. Jangan sampai engkau menggadaikan kenikmatan abadi yang tidak terlintas dalam pikiranmu dengan kenikmatan sesaat yang segera berbalik menjadi sumber virus. Ibarat orang yang sedang bermimpi indah, ataupun menghayal terbang melayang jauh, ketika tersadar ternyata hanyalah mimpi dan khayalan, akhirnya sirnalah segala keindahan semu, tinggal keletihan, hilang nafsu dan kebinasaan menunggu.
Kedua keyakinan bahwa berbagai resiko yang sangat menyakitkan akan ditemuinya jika dia gagal melupakan yang dikasihinya, dia akan mengalami dua hal yang menyakitkan sekaligus, yaitu: gagal dalam mendapatkan kekasih yang diinginkannya,dan bencana menyakitkan dan siksa yang pasti akan menimpanya. Jika yakin bakal mendapati dua hal menyakitkan ini niscaya akan mudah baginya meninggalkan perasaan ingin memiliki yang dicinta.Dia akan bepikir bahwa sabar menahan diri itu lebih baik. Akal, agama , harga diri dan kemanusiaannya akan memerintahkannya untuk bersabar sedikitdemi mendapatkan kebahagiaanyangabadi. Sementara kebodohan, hawa nafsu, kezalimannya akan memerintahkannya untuk mengalah mendapatkan apa yang dikasihinya. Orang yang terhindar adalah orang-orang yang dipelihara oleh Allah.
Jika terapi ini tidak mempan juga untuknya, hendaklah dia selalu mengingat sisi-sisi kejelekan kekasihnya, dan hal-hal yang membuatnya dampat menjauh darinya, jika dia mau mencari-cari kejelekan yang ada pada kekasihnya niscaya dia akan mendapatkannya lebih dominan dari keindahannya, hendaklah dia banyak bertanya kepada orang-orang yang berada disekeliling kekasihnya tentang berbagai kejelekannya yang tersembunyi baginya. Sebab sebagaiman kecantikan adalah faktor pendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya demikian pula kejelekan adalah pendorong kuat agar dia dapat membencinya dan menjauhinya. Hendaklah dia mempertimbangkan dua sisi ini dan memilih yang terbaik baginya. Jangan sampai terperdaya dengan kecantikan kulit dengan membandingkannya dengan orang yang terkena virus sopak dan kusta, tetapi hendaklah dia memalingkan pandangannnya kepada kejelelekan sikap dan prilakunya, hendaklah dia menutup matanya dari kecantikan fisik dan melihat kepada kejekan yang diceritakan mengenainya dan kejelekan hatinya.
Jika terapi ini masih saja tidak mempan baginya, maka terapi terakhir adalah mengadu dan memohon dengan jujur kepada Allah yang senantiasa menolong orang-orang yang ditimpa musibah jika memohon kepadaNya, hendaklah dia menyerahkan jiwa sepenuhnya dihadapan kebesaranNya, sambil memohon, merendahkan dan menghinakan diri.
Jika dia dapat melaksankan terapi akhir ini, maka sesunguhnya dia telah membuka pintu taufik (pertolongan Allah). Hendaklah dia berbuat iffah (menjaga diri) dan menyembunyikan perasaannya, jangan sampai dia menjelek-jelekkan kekasihanya dan mempermalukannya dihadapan manusia, ataupun menyakitinya, sebab hal tersebut adalah kezaliman dan melampaui batas.
Penutup
Demikianlah kiat-kiat khusus untuk menyembuhkan virus ini. Namun ibarat kata pepatah: “Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati” maka sebelum terkena lebih baik menghindar. Bagaimana cara menghindarinya? tidak lain dengan tazkiyatun nafs. Semoga pembahasan ini bermanfaat.Wallahu’alam bishowaf **(ram/dari beberapa sumber)
Ketika mengalami hal yang tidak menyenangkan bagi kita,baik berupa musibah yang melanda keluarga, keuangan yang “mencekik”, kondisi kesehatan yang kurang baik dan segala hal yang kita anggap tidak enak-enak, kita cenderung mengrutu dan tidak sedikit orang “berfikir negatif” bahwa Tuhan tidak sayang pada kita.
Al-quran menceritakan, ketika Nabi Musa di suruh oleh Allah untuk pergi ke hilir, beliau ke hilir di temani oleh muridnya yang bernama Nun. Keduanya mempersiapkan bekal untuk perjalan yang tidak bisa di prediksikan kapan sampainya. Sebungkus roti dan ikan yang sudah matang ditaruh di sebuah toples. Ketika keduanya sampai disebuah tempat dan memutuskan untuk istirahat sejenak, Nabi Musa hendak menyantap bekalnya dan meminta ke pada muridnya untuk memberikan ikan tersebut.
“Maafkan saya tuan, saya lupa memberi tahu tuan. Saat kita melewati sebuah hilir tadi, ikan yang ada di dalam toples tadi tiba-tiba hidup kembali dan kemudian meloncat masuk ke dalam laut.” Terang muridnya kepada Nabi Musa.
Nabi segera meminta muridnya untuk menunjukkan tempat tersebut, karena tempat itulah yang selama ini beliau cari, yaitu majma’ al-bahrain. Apa itu majma’ al-bahrain? majma’ adalah pertemuan, perjumpaan atau benturan, sedangkan al-bahr adalah laut kalau al-bahroin dua laut. Jadi majma’ al-bahrain adalah pertemuan atau perjumpaan dua laut. Kejadian tersebut telah dijelaskan dalam al-quran surat al-kahfi ayat 60-64, dan telah dibuktikan oelh ilmuan-ilmuan masa kini.
Jadi apa Ilmu atau rahasia yang dapat dipetik dari ciptaan Allah ini (majma’ al-bahrain)? ilmunya ialah jika kita mengalami “beturan-benturan” dalam kehidupan, maka bersyukurlah. Sebab dari “benturan-benturan” tersebut disitulah letak sesuatu yang mati menjadi hidup, sesuatu yang buntu menjadi terbuka, sesatu yang tidak kreatif menjadi kreatif, itulah yang disebut letak ‘gravisitas’ yaitu keadaan yang berbentur-bentur, sesuatu keadaan yang seolah-olah kesulitan bagi kita justru disitulah letak Allah menyembunyikan rizkinya dan menampakkan kasih sayang-Nya dengan gaya bahsa-Nya sendiri.
Jadi jika ketika kita mengalami yang susah-susah, sulit-sulit, jagan dicurigai dengan sesuatu yang menyengsarakan, Tuhan memberi rezki dengan cara bermacam-macam. Jagan-jangan ketika Tuhan memberi harta banyak justru itu menjadi “malapetaka” bagi kehidupan kita. Begitu sebaliknya, ketika Tuhan memberi kita sesuatu yang negatif dalam sudut ekonomi modern, jagan-jagan disitu Tuhan memberi rezki (kreatifitas, kearifan, ketajaman berfikir,dan kejernihan hati). Kalau kita cermati lebih dalam, ketika kita dalam keadaan terhimpit (susah) justru segala kratifitas kita muncul,yang dulunya kita tidak bisa menyelesaikan tugas yang dibebankan pada kita,karena deadline akhirnya bisa selesai. Atau ketika seorang yang awal mulanya kakinya sakit untuk berjalan ketika anjing mengejarnya, tanpa piker panjang langsung “tancap gas”, itulah yang di sebut dengan the power of kepepet. Jadi Majma’ al-bahrain itu benar-benar terjadi dalam sejarah, dalam hidup kita masing-masing, dalam keluarga kita juga dalam bangsa kita Indonesia.
Sekarang coba kita temukan Majma’ al-bahrain dalam konteks Indonesia apa saja, benturannya apa saja, justru disitulah letak di mana momentum kita akan hidup. Seperti halnya yang terjadi pada ikan nabi Musa yang mana ikan itu sudah mati, sudah di goreng kemudian hidup kembali. Dan Allah menjanjikan. Ingat janji Allah bukan suatu keajaiban melainkan suatu kenyataan yang diterjemahkan dalam hukum-hukum alam dan proses-proses sejarah yang rasional.
Jadi ingat pada tahun 2004 terjadi musibah Gempa bumi tektonik berkekuatan 8,5 SR berpusat di Samudra India (2,9 LU dan 95,6 BT di kedalaman 20 km (di laut berjarak sekitar 149 km selatan kota Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam). Gempa itu disertai gelombang pasang (Tsunami) yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), yang memakan korban 105.262 jiwa. Kemudian 26 Desember 2007 100 Orang Lebih tewas di P. Jawa: Di penghujung tahun, pada saat warga Aceh sedang memperingati tiga tahun bencana besar tsunami sederetan bencana menghantam Jawa Tengah, Solo, Yogyakarta dan Jawa Timur. Diperkirakan lebih dari seratusan orang tewas akibat bencana banjir dan tanah longsor yang sambung menyambung. Di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sedikitnya 64 orang tewas akibat tanah longsor. Di Kabupaten Wonogiri, sebanyak 17 orang juga terkubur hidup-hidup oleh tanah longsor saat terlelap dalam tidurnya. Di Solo, banjir merendam ratusan rumah dengan ketinggian mencapai 1,5 meter. Musibah yang terjadi pada 14 April 2010, di Jakarta terjadi bentrok berdarah antara Satpol PP dengan warga di areal makam Mbah Priok. Terus tsunami mentawai dan gempa di wasior, gunung merapi di Jawa Tenggah, dan gunung bromo di Jawa Timur.
Disinilah bangsa ini banyak mengalami Majma’ al-bahrain, sehingga disamping pertengkaran-penteangkaran, saling menyalahkan satu dengan yang lainnya, kita juga harus ada tim kreatif di luar pertengkaran-pertengkaran tersebut. Ada orang atau lembaga khusus sebagai “lite bank” untuk mempelajari letak grativitas “kehidupan”, sehingga pada tahun ini atau tahun-tahun berikutnya kita dapat mengatasi “benturan-benturan” setidaknya benturan pada diri kita pribadi atau pada keluarga kita.**ram
Blog ini adalah sebuah wadah yang menunjukkan sebuah ungkapan rasa syukur kepada zat yang Maha Sempurna. Adanya The Miracle Of Share ini adalah bentuk dari eksistensi dari 'pengada-pengada' kepada Ada, untuk menunjukkan bahwa dia itu ada. Maka mari bergang dalam wadah The Miracle Of Share, karena saya yakin bahwa Anda pasti ada untuk bersikap lebih baik dalam berbagi sesama.