Oleh: Ustdz. Muhammad Syukrillah, S.TH.i*
Tamu agung akan segera datang. kedatangannya selalu disambut penuh suka cita oleh penduduk langit dan Bumi yang beriman. Demikian pula kepergiaanya akan diiringi perasaan penuh duka cita. Bulan Ramadhan, bulan yang ditunggu oleh para perindu kedamaian jiwa, para pencinta Sang Pemilik Cinta, para pendosa yang mengharap ampunan dan pembebasan dari ancaman siksa neraka.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang agung dan mulia. Hari-harinya selalu istimewa. Istimewa dengan limpahan karunia rahmat dan pengampunan. Bulan pembebasan dari tanggungan dosa bagi hamba-hamba yang bertakwa. Keberkahan dan keutamaan terdapat di setiap detik waktu di dalamnya.
Alangkah wajar jika kita menyambut kedatangannya dengan segenap kegembiraan dan kesiapan, agar kita dapat meraih tujuan dengan maksimal. Derajat takwa adalah derajat yang tinggi dan mulia di hadapan Allah. Untuk meraihnya, tidaklah mudah dan dengan usaha “sekedarnya”. Puncak ketinggian prestasi amal ini haruslah direncanakan dan dipersiapkan. “Gagal merencanakan = merencanakan gagal”.
Bulan Ramadhan adalah musim perlombaan bertaqarrub kepada Allah. Berlomba menghadirkan amal-amal terbaik kualitasnya untuk dipersembahkan kepada Allah, Pemilik jagat raya ini.. Berlomba mempersembahkan puasa yang terbaik, sholat tarawih yang terbaik, bacaan Al-Al-Quran, dzikir, sedekah dan lain-lain. Berlomba untuk meraih berbagai keutamaan dan keistimewaan pahala di dalamnya. Sudahkah kita mempersiapkan diri memasuki arena perlombaan ini?
Persiapan kita menghadapi Ramadhan adalah keniscayaan agar prestasi ibadah kita tahun ini lebih baik dari tahun-tahun kemarin. Persiapan ini juga menjadi bukti dan manifestasi dari ketulusan cinta kita terhadap kedatangannya, kepatuhan yang tinggi terhadap syari’at Allah dan kesungguhan meraih ridho-Nya. Orang–orang yang saleh terdahulu (salaf) biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rajab dan Sya'ban. Hal ini tercermin dari doa yang dipanjatkannya di Bulan Rajab dan Sya’ban: "Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan."
Apa saja bentuk persiapan yang perlu dilakukan pra-Ramadhan?
Pertama, al-I’dad al-imany wa ar-ruuhy (Persiapan iman dan ruhiyah)
Iman menjadi landasan amal. Iman menjadi pemicu dan pemacu seseorang dalam melaksanakan suatu amal. Bahkan ia pun menjadi prasyarat diterimanya suatu amalan.
Persiapan dan pembenahan iman menjadi hal mutlak bagi pelaksanaan Ramadhan. Hal ini tercermin dari firman Allah SWT yang menetapkan kewajiban puasa dengan seruan “ Wahai orang-orang yang beriman ….” (Al-Baqarah: 183)
Bagaimana cara melakukan persiapan dan pembenahan iman ini? Para ulama sepakat menyatakan bahwa Iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Jika suatu amal ketaatan dilakukan, maka ia akan mengundang hadirnya bentuk ketaatan yang lain dan berbuah peningkatan iman bagi pelakunya. Demikian pula sebaliknya, suatu kemaksiatan akan memancing pelakunya terjerumus untuk melakukan kemaksiatan berikutnya dan mereduksi kadar keimanan pelakunya.
Oleh karena itu, dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, kita bersegera melakukan muhasabah (introspeksi diri), menghindari berbagai amalan dosa dan maksiat, memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah dan melakukan tazkiyah an-nafs (pembersihan jiwa) dan memperbanyak ibadah dan amal kebajikan, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, dll. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim)
Kita sadari bahwa meraih kesempurnaan pelaksanaan ibadah puasa dan amal sholeh yang terkait dengannya di dalamnya bukanlah perkara yang mudah. Tarikan hawa nafsu dan kesibukan berbagai urusan duniawi bisa mengganggu kekhusyuan dan kesempurnaan ibadah Ramadhan. Oleh karena itu, upaya persiapan ruhiyah dan keimanan ini harus dilakukan. Bahkan diupayakan meningkat sejak bulan Rajab dan Sya’ban dan semakin meningkat hingga memasuki Bulan Ramadhan. Inilah bentuk “pemanasan” (warming up) dan pembiasaan sehingga kita memasuki Ramadhan dalam keadaan kadar keimanan yang tinggi dan terbiasa dalam melakukan kebajikan.
Kedua, al-I’dad al-Ilmi wa ats-tsaqofi (persiapan aspek keilmuan dan wawasan)
Banyak orang yang berpuasa, namun gagal meraih keutamaan yang disediakan. Yang terasa hanya lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan karena puasanya tidak dilandasi oleh ilmu yang cukup. Puasa disamakan dengan rutinitas tahunan dari ritual tradisi tanpa pemahaman dan pendalaman makna. Jelas, seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan apa-apa kecuali kesia-siaan belaka.
Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Imam Bukhari menegaskan : Ilmu (menjadi landasan) sebelum berkata dan beramal. Orang yang berpuasa dengan dasar ilmu memiliki keseriusan melaksanakannya. Ia paham keutamaannya dan amal-amal terbaik yang perlu dilakukan. Ia mengetahui pembatal-pembatal, dan pengurang pahalanya.
Persiapan Ramadhan dari aspek fikriyah (persiapan intelektual dan keilmuan) dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Caranya antara lain dengan membaca buku dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan, menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan perlbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, juga penting untuk dipersiapkan. Bekal ilmu akan mengarahkan kita untuk beribadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW selama Ramadhan. Hal ini menjadi pelengkap syarat terkabulnya suatu amalan setelah lurusnya keikhlasan karena Allah SWT.
Ketiga, al-I'dad al-Jasady (persiapan fisik)
Rasululah SAW bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” (Al-Hadis)
Puasa termasuk ibadah fisik dan diwajibkan bagi orang yang mampu secara fisik. Demikian pula, kualitas dan kuantitas qiyamul lail dan membaca Al-Qur’an membutuhkan kondisi fisik dan kesehatan yang prima. Sehingga menjaga kondisi fisik dan kesehatan harus dilakukan sejak awal. Jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal.
Sejak bulan Rajab, Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan memperbanyak puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur'an baik dengan membaca maupun mengkaji kandungannya (tadabbur) serta biasa bangun untuk sholat malam.
Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan.
Keempat, al-I'dad al-Maliy (persiapan harta)
Idealnya seorang muslim telah menabung selama sebelas bulan yang lain sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan.
Harta kekayaan yang terkumpul bukan hanya untuk kepentingan diri dan keluarga. Namun, harta juga hendaklah memiliki fungsi sosial. Karena puasa melatih sikap empati kepada sesama. Berhasilnya Internalisasi makna puasa ini tercermin dengan meningkatnya kesadaran untuk berzakat, infak dan sedekah.
Salah satu ibadah yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW di Bulan Ramadhan adalah bersedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa. Di antara bentuk sedekah yang istimewa di bulan ini adalah memberi makan orang yang berpuasa (ifthor). Pahala sedekahnya adalah sebanyak jumlah orang yang diberinya makan. Subhanallah..
Persiapkanlah sejumlah dana untuk bekal melipatgandakan sedekah di Bulan Ramadhan. Tentunya, harta yang harus disiapkan adalah harta yang diperoleh dengan cara yang halal dan thayyib. Sebab, “Allah itu baik, dan tidak menerima (dari hamba-Nya) kecuali yang baik-baik” (al-Hadis).
Kelima al-I’dad al-baramij ar-ramadhaniyah (Persiapan program Ramadhan)
Ramadhan adalah syahrul ibadah, syahrul Quran, syahrut tarbiyah, syahrud dakwah, dst. Persiapkanlah kegiatan-kegiatan yang mencerminkan nilai Bulan Ramadhan tersebut. Aktivitas dan program itu bisa ditujukan untuk pribadi, keluarga, masyarakat, maupun organisasi (jama’ah).
Khususnya para da’i/da’iyah, hendaknya menyiapkan barnamij da’awiy (program-program dakwah) berupa aktivitas taklim, kajian kitab, diskusi, ceramah, dan lain-lain. Sebab, meningkatnya kesadaran religus (maknawiyah dan ruhiyah) umat Islam menjadi peluang untuk meningkatkan iltizam (komitmen) umat kepada ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Akhirnya, selamat mempersiapkan diri menyambut Bulan nan mulia ini. Semoga kesempatan ini dapat kita gunakan sebaik-baiknya untuk memperbaiki kekurangan Ramadhan yang telah lalu dan menjadi momentum perbaikan kondisi diri pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa. Wallahu'alam bishowab
* Pengasuh Pondok Pesantren di Bima Nusa Tenggara Barat



0 komentar:
Posting Komentar